COVID-19, Angka KDRT di Penjuru Dunia

Wabah COVID-19 masih berjalan, Sehingga, masih dianjurkan melakukan rutinitas dari rumah dan membuat Angka KDRT di Penjuru Dunia meningkat.

COVID-19, Angka KDRT di Penjuru Dunia Bertambah Dan Berulang

Sepintas, ini adalah hal yang bagus sebab kita dapat bergabung dengan keluarga. Tetapi, untuk beberapa orang, “terkurung” dengan keluarga bukan hal yang membahagiakan.

Baca Juga: Ramai RUU Minol, Apakah seburuk orang katakan?

Karena, ini selanjutnya tingkatkan kekuatan perselisihan sampai berbuntut pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atau kekerasan lokal (domestic violence).

Peristiwa Angka KDRT Penjuru Dunia Dapat Berpengaruh Besar Dalam Kesehatan Psikis Seorang

Dokter specialist mental, dr. Guntara Hari, Sp.KJ, membahas permasalahan ini dalam seminar bertema “Menangani Masalah Kuatir di Periode Wabah” yang diadakan oleh Pfizer di hari Minggu (15/11/2020). Di bawah ini penuturannya!

  • Statistik kenaikan kekerasan lokal di Indonesia

Kenaikan kekerasan lokal berlangsung di sebagian besar negara di dunia sepanjang wabahk ini berjalan. Dokter Guntara mengatakan jika di Malaysia dan beberapa negara lain, angka itu dapat naik dua sampai 3x lipat dari tahun awalnya.

Begitupun di Indonesia. Berdasar data yang diuraikan dr. Guntara, sepanjang tiga bulan pertama wabahk, terdaftar ada 250 masalah KDRT yang disampaikan. Jumlah itu telah capai 1/2 dari masalah tahun kemarin.

  • Kekerasan lokal bertambah sebab aktor bersama-sama dengan korban setiap waktu

Mereka peluang jadi korban yang lebih berat,” kata dr. Guntara.

Penjabaran dr. Guntara itu cukup menerangkan mengapa kekerasan lokal dapat bertambah di tengah-tengah wabahk. Hal itu bertepatan dengan karakter jelek aktor, makin memacunya untuk lakukan kekerasan.

Harus dipahami jika tindak kekerasan lokal bisa berlangsung dalam bermacam-macam. Dimulai dari kontak fisik, verbal, emosi, religiusositas, reproduktif, sampai seksual. Disamping itu, siapa saja beresiko untuk merasakannya, baik istri, suami, atau beberapa anak.

  • Kekerasan lokal berpengaruh besar pada keadaan psikis korban

Tentu saja, kekerasan lokal akan hasilkan “cedera” yang tetap membekas pada korban. Cedera fisik pada umumnya bisa pulih seiring waktu berjalan. Tetapi, cedera psikis benar-benar susah untuk sembuh dari diri korban.

Imbas psikis pertama yang umum dan paling kronis ialah stres. Keadaan ini dapat berjalan dalam periode panjang dan cukup susah untuk betul-betul sembuh. Korban akan bersedih, takut, sampai mempersalahkan diri kita.

Imbas selanjutnya ialah post-traumatic stress disorder atau PTSD. Keadaan ini tampil berbentuk memory atas kekerasan yang dirasakan korban, mimpi jelek, kekhawatiran kronis, dan pemikiran negatif yang susah untuk dikendalikan.

Keadaan psikis yang lain yang mempunyai potensi dirasakan korban ialah masalah seksual secara psikis, masalah personalitas tingkat, ketagihan alkohol atau obat terlarang, sampai pemikiran untuk bunuh diri.

Sayang, sebagian besar kekerasan lokal tidak teridentifikasi sebab minimnya kesadaran warga. Korban juga kerap kali didesak atau malah menampik untuk memberikan laporan apa yang dirasakannya ke faksi berwajib.

  • Lockdown dan KDRT

Waktu kota-kota besar di China alami lockdown, salah satunya masyarakat (sebutkan ia Lele, 26 tahun) asal Propinsi Anhui alami siksaan fisik dan mental.

Lele sering beradu alasan dengan suaminya. Sampai pada 1 Maret lalu, Lele tengah menggendong bayinya yang berumur 11 tahun waktu si suami mulai memukulinya dengan bangku.

Lele tidak percaya berapakah kali dia digebukin. Mendadak dia berasa salah satunya kakinya mati rasa dan jatuh ke lantai, masih menggendong bayinya.

Satu photo yang diambilnya habis peristiwa itu memperlihatkan bangku di lantai telah remuk berkeping-keping. Photo yang lain yang diambil Lele ialah ke-2 kakinya yang penuh cedera dan bengkak.

Tetapi Wabah Covid-19 Membuat Keadaan Semakin Jelek.

Ketika waktu pemerintahan lakukan lockdown di Propinsi Hubei yang disebut episenter penebaran virus corona.

Di Inggris, daerah Avon dan Somerset memperoleh laporan KDRT bertambah sekitar 20 % pada masa yang serupa.

Di Spanyol, nomor genting untuk KDRT terima 18 % semakin banyak panggilan pada dua minggu awal lockdown.

“Kami mendapatkan banyak panggilan yang memilukan, yang memperlihatkan begitu intensif tindakan jelek pada fisik dan psikis saat seorang ada 24 jam di dalam rumah,” papar Ana Bella, yang baru membuat suatu lembaga untuk menolong beberapa wanita yang terserang KDRT.

Pekan kemarin, faksi kepolisian di Perancis memberikan laporan tingkat KDRT untuk semua daerah negara bertambah 30 %. Christophe Castaner sebagai Menteri Dalam Negeri Perancis sudah minta faksinya untuk menangani kritis ini.

“Resikonya makin bertambah sebab (lockdown),” katanya.

  • Liabilitas wanita

Satu riset baru dari Flinder University di Australia mengulas mengenai liabilitas wanita selama saat wabah.

Riset ini mendapati jika salah satunya fakta angka KDRT bertambah pada periode wabah ialah karena pertambahan bermacam-macam liabilitas wanita.

Liabilitas ini kerap muncul karena beban lokal wanita bertambah sepanjang wabah ini.

Wanita bukan hanya mempunyai pekerjaan untuk mengurusi rumah tangga, sebagian dari mereka mengemban pekerjaan menjadi guru untuk anak-anaknya.

Beban ini bertambah sebab sekarang ini beberapa anak sedang menyesuaikan dengan mekanisme belajar daring pada periode wabah. Sekarang ini wanita bekerja selaku guru private untuk anak-anaknya sebab ditutupnya beberapa sekolah sepanjang wabah.

Ibu yang bekerja harus juga membagi waktu agar masih produktif kerjakan kerjanya di dalam rumah. Mengakibatkan, mereka harus sanggup lakukan bermacam peranan ganda ini dan hal itu bisa menambahkan beban yang lumayan berat untuk wanita.

Satu pengkajian dari Komnas Wanita mendapati jika waktu periode wabah, wanita di Indonesia habiskan waktu lebih dari 3 jam untuk lakukan pekerjaan rumah tangga – 4 kali semakin banyak dibanding lelaki.

Dan saat wanita tidak sanggup penuhi pekerjaannya secara baik, mereka bertambah lebih rawan jadi sasaran tindak kekerasan.

Di Indonesia, wanita dipandang bertanggungjawab dalam mempersiapkan dan sediakan makanan. Tetapi, kenyataannya, wabah ini sudah membuat wanita kesusahan untuk penuhi tanggung jawab ini.

Harga makanan sudah naik sebab ada wabah, dan data terkini memperlihatkan jika wanita Indonesia harus terpaksa habiskan uang yang semakin banyak untuk beli bahan makanan untuk keluarga.

Disamping itu, banyak wanita dari kelas menengah atas yang tak lagi memperoleh kontribusi dari karyawan rumah tangga atau saudara-saudara mereka yang umum menolong mereka sediakan makanan bergizi untuk keluarganya, sebab ada PSBB.

LBH APIK menerangkan jika wanita makin lebih rawan pada KDRT, saat rumah tangganya alami kekurangan makanan.

Kesusahan ekonomi pada periode wabah tingkatkan liabilitas wanita pada kekerasan.

Bahaya Dari KDRT Saat Pandemi Covid-19

Wabah ini sudah mengakibatkan beberapa orang alami pemangkasan upah, bahkan juga kehilangan pekerjaan. Saat penghasilan rumah tangga menyusut, kemelut di rumah tinggi akan bertambah. Wanita bisa menjadi target untuk beberapa aktor kekerasan, yang kerap kali memakai kesusahan keuangan selaku fakta dibalik kekerasan yang dikerjakan.

“Kita kerap kali menyaksikan jika korban KDRT berawal dari rumah tangga miskin. Desakan dari segi kesehatan dan ekonomi, ditambahkan ada PSBB, bisa menambahkan beban untuk beberapa orang, yang bisa mengakibatkan perselisihan,” kata Karel Karsten Himawan, dosen psikologi Kampus Pelita Keinginan.

Saat wanita bertambah lebih rawan sebab bertambahnya beban lokal dan kesusahan ekonomi, peraturan pemerintahan untuk menahan penebaran COVID-19 malah mengakibatkan wanita kesusahan untuk cari kontribusi saat alami kekerasan.

Meskipun peraturan PSBB Indonesia tidak begitu ketat dibanding negara lain, akses pada kesehatan dan pengajaran jadi benar-benar terbatas.

Menurut Yayasan Sembuh, satu yayasan yang tawarkan service psikis untuk korban KDRT dan trauma yang lain, korban KDRT alami kesengsaraan yang makin besar sebab mereka terisolasi dari bermacam mekanisme yang bisa menolong mereka.

Maria Ulfa Anshor, anggota Komnas Wanita, menjelaskan jika kesusahan paling berarti yang organisasinya menghadapi ialah menolong korban dalam terhubung kontribusi.

Sekarang ini, saat akan melapor korban KDRT diharuskan bawa hasil test yang mengatakan mereka negatif dari COVID-19, satu proses yang cukup menyusahkan untuk beberapa korban.

“Bila korban berkunjung rumah sakit atau Puskesmas untuk memperoleh test COVID-19, mereka tidak dipandang seperti fokus sebab mereka bukan orangtua dan tidak memperlihatkan tanda-tanda COVID-19,” kata Maria.

Bila kamu alami perlakuan itu atau melihat kekerasan dalam rumah tangga, tidak boleh sangsi untuk menyampaikannya ke Komnas Wanita, LBH APIK, atau Women’s Crisis Center. Tidak ada kelirunya untuk meminta dana untuk rekan, saudara, atau orang paling dekat yang kamu yakin.